Senin, 17 Juni 2013

nostalgia, menulis

Blogku Setelah sekian lama tidak membuka dan menulis postingan di blog, rasanya seperti menemukan serpihan diri yang hilang, tersedot ke masa lalu. hehehe #lebay Membaca kembali tulisan-tulisan ketika awal saya menyatakan diri 'terjun' ke dunia ini. Semoga ke depannya bisa konsisten berbagi cerita dan menuangkan ide. Salam jumpa kembali :)

Senin, 18 Januari 2010

Kamis, 23 Juli 2009

Anak yang Cerdas

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Mungkin Anda masih berpikir bahwa anak yang cerdas adalah anak yang super, anak yang selalu mencapai suatu tahapan dalam waktu yang cepat, anak yang sudah pandai berhitung dan membaca di usia dini, sehingga Anda cenderung mengharuskan si kecil belajar dengan cara yang serius. Padahal anak-anak yang cerdas, yaitu anak-anak yang:


Senang mengulang-ulang lirik, sajak, lelucon, dan cerita kata demi kata.
Bersiul, bersenandung, menyanyikan lagu-lagu iklan, bergumam, mengeluarkan bunyi aneh dari mulut, atau mengoceh.
Mengetuk-ngetukkan jari, tongkat, atau mainan secara berirama.
Menggambar di kaca kamar mandi yang beruap.
Membongkar mainan.
Mengoleksi benda.
Menciptakan dan bermain dengan teman-teman khayalan.
Mengubah permainan dengan menerapkan aturan khusus.
Meluncur atau berjingkrak-jingkrak dengan memakai kaos kaki di lantai dapur.
Beraksi di atas sepeda, papan luncur, atau sepatu roda.
Memutar-mutar tombol radio untuk mencari acara-acara menarik.
Menyusun balok kayu atau barang lain, lalu merubuhkannya.
Selalu ingin tahu cara kerja berbagai benda.
Menirukan bunyi binatang, mesin, suara tukang jualan yang menjajakan dagangannya, atau suara-suara aneh lain.
Mengatur dan mendekorasi ulang sekelilingnya.
Suka mendengar cerita yang sama secara berulang-ulang.
Menciptakan tarian dengan iringan musik dari radio, televisi, atau CD.
Mencampur ramuan—cairan gula atau busa sabun yang dikocok hingga berbusa.
Berteman dengan anak-anak yang lebih kecil dan binatang, atau memelihara binatang.

Mungkin Anda melihat lusinan gambaran “kecerdasan” di atas dalam diri si kecil, tapi Anda berpikir, “Oh, baru tahu saya! Saya kira si kecil hanya membuat pusing ibunya!” Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak perilaku aneh pada anak-anak mungkin merupakan tanda-tanda khusus dari kecerdasan. Apabila Anda belajar untuk mengenali tanda-tanda tersebut, dan Anda mengembangkannya, Anda bisa membantu si kecil menjadi anak yang lebih cerdas.

(sumber: Seven Times Smarter, Three Rivers Press)

Jumat, 17 Juli 2009

Membesarkan Anak Yang Kreatif

Ibu dan ayah yang ingin membesarkan 'Michel Angelo' baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar 'membiarkan mereka' akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society.

Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu
digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Biarkan kreativitas mereka berkembang

Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti "bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?". Semakin banyak ataupun semakin 'asing' jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.

Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orangtua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan 'memungkinkan', akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. " 'Memungkinkan' berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu," Grubb menjelaskan.

Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang 'memungkinkan' bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi justru – meskipun tidak besar - cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. "Malah gaya 'memungkinkan' ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap 'memaksa', yang membuat orang tua sering berkata: "Jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya," kata Grubb.

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orangtua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ?

Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.

Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.
(sumber: satumed.com)

Kamis, 09 Juli 2009

Biarkan Anak Tumbuh Alami

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Charlie, tokoh dalam cerita Charlie and the Chocolate Factory, adalah seorang anak miskin biasa yang jarang mendapat uang jajan, lalu diberikan sedikit uang tabungan kakeknya untuk membeli coklat yang ternyata terdapat sebuah tiket untuk berwisata ke Paberik Cokelat milik William Wongka. Terdapat beberapa anak lain yang menjadi pemenang tiket tersebut. Kemudian perjalanan yang tidak hanya sekedar kunjungan wisata tentang bagaimana proses pembuatan cokelat dibuat, tetapi juga ternyata merupakan suatu ujian untuk mengetes anak-anak tersebut sampai akhirnya tersisa satu orang pemenang. Setelah melalui beberapa ujian tersebut, pada akhirnya Charlie-lah yang menjadi pemenang seorang diri, sehingga ia ditawari untuk menjadi pewaris kekayaan William Wongka. Sementara teman-temannya yang lain, satu per satu tergelincir akibat keserakahan dan keinginan yang berlebihan.

Dari cerita di atas, saya melihat (maksudnya ketika menonton filmnya dulu), anak-anak yang lain, dari golongan menengah ke atas, dengan kehidupan yang serba mudah dan fasilitas yang serba ada, yang dalam pandangan sepintas terlihat bahwa anak-anak tersebut adalah anak-anak yang hebat, memiliki obsesi untuk maju dan berprestasi, anak-anak yang super, dengan segudang penghargaan. Tapi apa yang kemudian terjadi, adalah secara mental mereka ‘terganggu’ menjadi tidak normal, sehingga akhirnya menyebabkan mereka celaka. Namun Charlie dengan segala kepolosan dan keluguannya, mampu menghadapi godaan-godaan.

Saya teringat ketika anak saya dulu terlambat berjalan. Anak saya baru bisa jalan pada usia 17 bulan, sedangkan anak-anak tetangga yang seusianya rata-rata sudah pandai berjalan sejak usia 10-12 bulan. Betapa orang tua mereka sangat bangga karena anaknya sudah berjalan dengan lancar bahkan berlari, sedangkan anak saya masih harus dipegang dengan satu tangan. Jika mengingat masa itu, saya masih terus bersyukur anak saya pada akhirnya juga bisa berjalan. Namun apa yang kemudian terjadi, setelah lancar berjalan, rasa-rasanya tak ada bedanya dengan anak lain yang sudah lebih dulu pandai berjalan. Mereka menjadi sama saja, tidak menjadi misalnya karena sudah lama pandai berjalan, sekarang jadi berjalan dengan cepat. Pun ketika anak saya dulu masih termat sangat kurus karena flek yang dideritanya. Mereka pun merasa bangga karena anaknya mempunyai berat badan 13-14 kg, sedangkan anak saya hanya 8 kg. Saya pun sekarang kembali bersyukur bila mengingat masa-masa itu. Tapi kemudian saya pikir berat badan anak saya naik, bukanlah sesuatu hal untuk dibanggakan. Karena anak-anak yang tadinya lebih gemuk, sekarang sama saja dengan anak saya, yang berat badannya baru naik sekitar 4-5 bulan yang lalu, dan alhamdulillah kemampuan-kemampuan yang lain anak saya bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi di mana dan apanya yang salah? Terkadang orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang beda dari teman-teman seusianya dan berprestasi, sehingga mereka terobsesi menjadikan anak yang super. Dengan menyekolahkan anak sejak usia dini, termasuk (mohon maaf) memasukkan anak ke pesantren yang jaraknya berpuluh km jauhnya dari orang tua, pada usia kelas 1 SD, supaya anaknya menjadi anak penghafal Al-Qur’an. Sebuah cita-cita yang mulia tapi menurut saya mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang orang tua secara penuh, dan memaksanya untuk berpikir seperti halnya orang tuanya berpikir.

Saya pun kembali merenungkan niat menyekolahkan anak saya ke play group. Anak saya minta sekolah (seperti halnya dia minta adik), tapi saya dan suami mencoba mengkajinya kembali, apakah sudah saatnya, ataukah terlalu cepat? Tapi anak saya kelebihan energinya tidak tersalurkan, sehingga sering kali ia merebut komputer saya, atau mengganggu pekerjaan suami. Dia pun jadi anak yang kurang mandiri karena terbiasa selalu ada yang menemani. Tapi tetap saja dalam hati kecil saya merasa ragu untuk menyekolahkannya, meskipun saya sudah mulai mencari-cari info sekolah yang bagus dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Dan sesungguhnya saya ingin anak saya tumbuh dengan alami, sesuai dengan masanya, menikmati masa kanak-kanaknya, tapi apa daya sarana dan suasananya kurang mendukung, meski mainan dan buku sudah menumpuk hingga lama-lama lapuk. Satu kata yang sering keluar dari mulut mungilnya, bosan. Saya pikir juga demikian, dia perlu suasana dan lingkungan yang baru, serta teman-temannya untuk bergaul dan bermain.

Seperti pada suatu ketika, saya sedang berada di suatu majelis pengkajian Al-Qur’an, tentu saja dengan peserta yang homogen. Lalu tiba-tiba anak saya bernyanyi dengan suara yang lantang, padahal di luar ruangan, ‘gila-gilaan bersama teman-teman’ atau ‘lupa, lupa lagi syairnya…’ dan lain-lain. Kontan saya terkejut, bercampur malu, dari mana Nak kau dengar lagu-lagu tersebut? Tapi ternyata tak hanya anak saya, anak-anak yang lain pun dengan lancar saja melantunkan lagu-lagu yang sedang trend, yang nota bene, kata-kata dan maksudnya tidak mereka pahami. Terlebih lagi bila melihat artis-artis cilik di layar televisi, duh…sangat miris melihatnya, mau jadi apa kelak kau dewasa, Nak? Hanya satu harapan dan cita-cita yang tersisa, hendaknya diadakan kursus parenting wajib bagi para calon ibu terutama, sebelum menikah, agar kelak bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar. Mungkinkah?[]