Minggu, 31 Mei 2009

Manfaat Cerita Lucu untuk Anak

Setiap anak secara naluriah senang dengan cerita/dongeng. Seiring dengan kemampuannya dalam berbicara, anak semakin haus untuk mendengarkan cerita. Tetapi cerita seperti apakah yang bagus dikonsumsi anak-anak, apakah semua cerita atau terdapat syarat-syarat tertentu? Dan bagaimana cara bercerita yang baik, serta apa manfaatnya bagi si anak?

Bercerita pada anak, selain meningkatkan kecintaan pada bacaan dan buku, sekaligus dapat membangun aspek kepribadian anak. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat mempengaruhi cara berfikir, bersikap dan bertindak pada seorang anak. Tetapi kita sebagai orang tua harus jeli, bahwa tidak semua buku/cerita yang menarik itu bergizi. Buku/cerita yang menarik dan bergizi adalah buku/cerita yang merangsang pikiran, perasaan dan imajinasi anak untuk berkembang.

Usahakan memberi anak buku-buku yang dari awal hingga akhir cerita menampilkan gagasan positif, sehingga anak betul-betul terbawa suasana, menimbulkan hasrat untuk bertindak dan mempengaruhi mentalnya.

Lalu bagaimana dengan cerita lucu? Cerita yang lucu sudah pasti memiliki daya tarik tersendiri. Prinsipnya bahwa cerita harus memiliki nilai tanggung jawab dalam pengembangan kepribadian anak. Secara psikologis cerita lucu selalu mendatangkan kebahagiaan. Jika anak bahagia, maka dia akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang kita ajarkan.

Menurut Ibu Elia Daryati, Psi., dampak cerita lucu pada kepribadian anak, yaitu akan mempengaruhi aspek : kognitif, afektif, dan konasi. Kognitif yaitu akan mempermudah proses pembelajaran pada anak, karena kemampuan berpikir lebih mudah menyerap. Afektif yaitu akan mempengaruhi suasana perasaan dan hati pada anak, yang efeknya yaitu kebahagiaan dan perasaan positif.

Jika anak sering menerima cerita lucu, maka anak akan menjadi anak yang ceria. Gambaran anak yang ceria, bukan sekedar anak yang jarang menangis dan senang tertawa, melainkan anak yang secara keseluruhan merasa bahagia, yaitu anak yang senang belajar, kreatif dan mandiri.

Sementara pada saat ini seringkali cerita lucu itu menggunakan bahasa-bahasa yang kurang sopan, atau penghinaan secara fisik. Jadi terdapat perbedaan antara cerita lucu dengan clowning (membadut). Clowning atau membadut diberikan pada cerita atau perilaku yang tampak kebodoh-bodohan atau konyol. Hal yang seperti ini akan berdampak negatif pada perkembangan anak, karena anak akan meniru, belajar untuk memaki dan melecehkan kondisi fisik orang lain.[]

“Multiple Intelligences” dan Pendidikan di Indonesia

“Anak-anak yang kita anggap ‘istimewa’ adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tidak diapresiasi budaya kita. Rasyid dan Dani punya kecerdasan visual yang menakjubkan, tetapi sekolah-sekolah kita mengabaikannya,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam mengantarkan buku karya Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak.

Dalam pengantarnya itu, Jalaluddin Rakhmat tak lupa menjelaskan secara detail betapa “multiple intelligences” (MI)—sebuah konsep-baru kecerdasan yang ditemukan oleh Prof. Howard Gardner—telah membantunya untuk mengatasi problem-problem yang menimpa para siswa yang bersekolah di SMA Plus Muthahhari.“Saya sangat bersyukur kepada Thomas R. Hoerr, Kepala Sekolah seperti saya,” lanjut Jalaluddin Rakhmat mengenang apa yang dilakukan oleh Hoerr, “yang pernah melakukan percobaan untuk mengaplikasikan MI pada sekolah yang dipimpinannya.

Buku ini tidak saja menceritakan tahap-tahap penerapan MI, bahkan mencantumkan dengan lengkap alat-alat administratif seperti Laporan Perkembangan Setiap Kecerdasan murid. Hoerr menulis buku ini dengan semangat untuk berbagi pengalaman—suka dan duka—dengan siapa pun yang terlibat dalam pengembangan generasi masa depan.”

Sebagaimana telah banyak diketahui, Gardner menciptakan “multiple intelligences” untuk menunjukkan kepada siapa saja—khususnya para pendidik—bahwa ada sedikitnya sembilan potensi kecerdasan yang disimpan oleh setiap manusia. Apabila seorang anak tidak dilahirkan cacat otaknya, anak tersebut akan mampu mengembangkan kesembilan kecerdasan tersebut atau dia pasti memiliki satu atau dua kecerdasan yang sangat menonjol.

Kesembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik dan matematis (dua kecerdasan yang sudah diidentifikasi oleh Alferd Binet yang disebut sebagai IQ); intrapersonal dan interpersonal (yang diteliti oleh Joseph E. LeDoux dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman serta disimbolkan dengan EQ); visual, musik, kinetetis, dan alam (yang kadang, sebelum diidentifikasi oleh Gardner, masuk dalam kategori bakat); serta eksistensial (kadang disamakan dengan kecerdasan spiritual atau sering disimbolkan dengan SQ meskipun Gardner tidak setuju).

Untuk keperluan pendidikan, “multiple intelligences” ini kadang digunakan sebagai “pintu masuk” dalam menjadikan seorang anak didik dapat menerima pemberian matapelajaran dari seorang guru sesuai “cara alamiah” yang dimiliki si anak didik. Tentu saja, penggunaan “multiple intelligences” seperti ini diperlukan lebih dahulu semacam pengecekan (untuk tidak mengatakan pengetesan karena Gardner tidak setuju jika kecerdasan yang menonjol pada seorang anak itu dites). Hanya, perlu diperhatikan bahwa pengecekan jenis-jenis “multiple intelligences” yang menonjol pada seorang anak didik tidak dapat dikatakan memberikan hasil permanen. Setiap jenis kecerdasan yang dimiliki seorang anak didik senantiasa terus berkembang hingga tidak terbatas. Ada sih kondisi akhir di mana kecerdasan itu dapat mencapai puncak. Namun, pada usia berapa dan pada saat bagaimana, sepertinya ini masih merupakan sebuah misteri.

Sebaliknya dari fokus kepada anak didik, banyak para pakar “multiple intelligences”—seperti Thomas Armstrong yang menulis buku bagus Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan—menganjurkan agar para guru mulai memberdayakan dirinya dengan menguasai dan mencoba menerapkan teori Howard Gardner ini. “Jadikanlah diri Anda sebuah potensi yang sangat kreatif dengan memanfaatkan ‘multiple intelligences’,” demikian seolah-olah pesan yang digaungkan para pakar dan ditujukan kepada para guru.

“Multiple intelligences” memang dapat membuat seorang guru memiliki variasi mengajar yang sangat tidak terbatas. Dengan memanfaatkan pelbagai kombinasi dari setiap kecerdasan itu—baik itu suara dikombinasikan dengan gerakan atau suasana alam, dan masih banyak lagi—ada kemungkinan sebuah kegiatan belajar-mengajar tidak berlangsung membosankan.

Demikianlah, sebuah teori telah merembes masuk ke dunia pendidikan di Indonesia. Ada yang memerhatikan, ada yang tidak. Ada yang memahami secara mendalam, ada yang hanya ingin tahu saja. Ada yang memanfaatkan teori-baru tersebut, ada juga yang masih bertahan dengan teori-lama. Alangkah baiknya apabila kita—merujuk ke konsep “multiple intelligences” temuan Howard Gardner yang memberikan banyak alternatif baru untuk menjalankan sistem pendidikan di mana pun kita berada—mengenang kata-kata bagus dari John Alston dan Lloyd Thaxton, “Ada yang dapat memahami, ada yang tidak. Yang memahami ada yang bertindak, ada yang tidak. Mereka yang bertindak akan berhasil, dan mereka yang tidak bertindak akan gagal.”[]

sumber: mizan.com

Segitiga Emas Strategi Pembelajaran Efektif

Sebuah lesson plan yang cukup berhasil diminati oleh para siswa dalam berbagai jenjang berjudul ”Log Cabin Abraham Lincoln”. Tidak hanya oleh para siswa, para guru pun tidak mau melewatkan mengajar tanpa lesson plan ini. Kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah kemampuan memahami gaya hidup sederhana. Di mana menariknya?

Pada jenjang TK, kesederhanaan diwakili oleh sosok Abraham Lincoln. Kenapa Abraham Lincoln? Sebab dia adalah presiden Amerika Serikat yang paling sederhana gaya hidupnya. Dikabarkan bahwa dia tidak mau berkantor di Gedung Putih dan menempati rumah sederhananya yang terbuat dari kayu (log cabin). Dengan berbagai strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru, seperti strategi wayang, dengan sarung tangan berbentuk Abraham Lincoln, seorang guru bercerita dengan menariknya sampai membuat semua siswa terkesima. Apalagi ketika sampai pada puncak kepahlawanan Abraham Lincoln. Semua siswa berdiri dan bertepuk tangan seiring dengan gerakan lucu boneka tangan Abraham Lincoln.

Ada lagi strategi lain yang dapat dilakukan seorang guru, yaitu dengan menonton film Abraham Lincoln atau dengan membacakan buku cerita tentang Abraham Lincoln. Walhasil, ada banyak strategi pembelajaran tentang kesederhanaan dengan menampilkan sosok Abraham Lincoln. Kegiatan belajar-mengajar seperti ini akan banyak memberikan inspirasi bagi para siswa. Guru tidak memulai pembelajarannya dengan pernyataan definitif kepada siswanya. ”Anak-anak, dengar ya … catat ya …. Yang dimaksud dengan kesederhanaan adalah gaya hidup yang bla..bla…bla …” Praktis, banyak siswa yang menatap sebentar lalu menoleh ke kanan-kiri lalu berbicara sendiri atau mengantuk dan akhirnya tertidur apabila kelas membosankan seperti itu.

Menampilkan tokoh Abraham Lincoln dengan berbagai cara yang menarik akan membantu para siswa memberikan contoh nyata ketika para siswa ditanya apa yang dimaksud hidup sederhana. Rata-rata, para siswa akan bergairah dan secara serentak menjawab, seperti Abraham Lincoln, rumahnya saja dari kayu sangat sederhana. Dari jawaban tersebut diperoleh kenyataan bahwa kehidupan sederhana dapat didefinisikan secara luas, tidak sempit, dan tepat karena dapat juga dirasakan oleh mereka.

Lesson plan ini tidak hanya berhenti di situ. Setelah cerita tentang sosok Abraham Lincoln, siswa-siswa usia TK diminta membuat log cabin atau rumah kayunya Abraham Lincoln dari kue cokelat dan kue-kue kering. Lalu hasil karya itu dipamerkan kepada orangtuanya dan guru-gurunya. Setelah puas, mereka memakannya bersama-sama. Sebuah proses belajar yang menarik dan menyenangkan.

Bagi siswa-siswa pada jenjang yang lebih tinggi, SD atau SMP, mereka diminta membuat log cabin mini dan apabila di halaman belakang rumah terdapat pohon yang cukup besar dan rindang, log cabin mini tersebut mereka letakkan di atas pohon tersebut. Mereka biasa menyebutnya dengan rumah pohon. Mereka akan puas sekali melihat hasil karyanya. Selain memahami betul makna kesederhanaan dari karyanya, mereka juga selalu terinspirasi dengan Abraham Lincoln. Log cabin di atas pohon itu selalu dijadikan tempat untuk belajar bersama, merencanakan proyek-proyek lain, dan lain-lain.

Bayangkan, betapa cantiknya proses belajar di atas. Munib Chatib menyebut strategi atau metode pembelajaran dengan penokohan itu dengan nama SEGITIGA EMAS. Sebuah segitiga memiliki tiga sudut. Satu sudut di atas dan dua sudut lainnya di bawah. Sudut pertama di atas adalah MATERI yang akan diajarkan. Materi apa saja yang terkait dengan karakter atau yang lainnya, misalnya kesederhanaan, keberanian, patuh kepada orangtua, dan lain-lain. Sudut yang kedua adalah menemukan TOKOH. Materi yang definitif tersebut dimunculkan dengan seorang tokoh yang mewakili materi tersebut. Abraham Lincoln adalah tokoh yang mewakili materi kesederhanaan. Sedangkan sudut yang ketiga adalah AKTIVITAS. Aktivitas ini adalah kegiatan membuat produk atau karya yang terkait antara materi dengan sang tokoh. Dalam lesson plan di atas, produk yang ditampilkan adalah membuat log cabin.

Penokohan, pada hakikatnya, adalah membangun citra. Sementara itu, aktivitas pada hakikatnya adalah modalitas yang paling disukai oleh otak. Artinya perpaduan antara PENOKOHAN dan AKTIVITAS menjadi kombinasi strategi pembelajaran yang efektif bagi siswa.

Dalam karya tulis Munib yang berjudul ”Islamic Quantum Learning”, Munib secara lebih detail memaparkan kualitas dari PENOKOHAN ini. Bagaimana jika tokoh yang ditampilkan adalah tokoh FIKTIF dan bukan tokoh REAL. Apakah dua jenis tokoh tersebut akan mempunyai dampak penguatan memori yang sama atau berbeda? Munib katanya akan mengulas persoalan penting ini pada kesempatan lain.[]

sumber: mizan.com

Apa yang Dapat Disumbangkan “Multiple Intelligences” untuk Indonesia?

Apabila kita ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan yang dijadikan subjek berita ini, kita dapat meminta tolong seorang Munif Chatib untuk menjawabnya. Munif Chatib semula adalah seorang sarjana hukum. Namun, nalurinya mengarahkan karier sarjana hukumnya ke bidang pendidikan. Akhirnya, Munif tidak kuat menahan desakan nalurinya dan ikutlah dia, pada suatu ketika, ke sebuah pendidikan jarak jauh milik Bobbi DePorter: Supercamp Oceanside California, USA.

Ketika ingin menyelesaikan studi jarak jauhnya itu, dia harus membuat semacam paper yang berisi atas gagasan-inovatifnya. Dia pun mengajukan sebuah paper dengan judul tidak biasa, “Islamic Quantum Learning”. Apa yang terjadi selanjutnya? Munif Chatib menjadi “Top 10” lulusan seangkatannya. Dan dia adalah satu-satunya peserta dari Indonesia yang masuk dalam peringkat kelima. Sebuah prestasi yang unik dan, tentu saja, membanggakan.

Kini, Munif Chatib adalah seorang konsultan pendidikan yang memiliki klien tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.Berikut ini adalah cuplikan wawancara antara Hernowo dengan Munif Chatib. Wawancara seutuhnya, dimuat di majalah Madina, tepatnya di rubrik “Teraju: Gaya Hidup Buku”. Munif adalah salah seorang yang berhasil menerapkan “multiple intelligences” di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah yang berada Jawa Timur. Rancangannya yang diberi nama MIR (multiple intelligences research) dan MIS (multiple intelligences system) telah membantunya mengubah sekolah-sekolah di kawasan Jawa Timur tersebut.

Mengapa Anda tertarik menekuni Multiple Intelligences (MI)?

Faktor utama yang menyebabkan saya tertarik menekuni MI adalah sifat MI yang begitu ”manusiawi”. Tiba-tiba setiap orang mempunyai potensi untuk menunjukkan ”benefiditas”-nya, dalam kondisi apa pun. Sebenarnya Howard Gardner menaungi lembaga psikologi yang bernama ‘project zero’ di Harvard University yang merupakan salah satu stakeholder dari Learning Forum-Supercamp yang dikomandani oleh Bobbi DePorter. Selain “project zero”, masih banyak lagi stakeholder yang terkait. Saya pernah menciptakan “Islamic Quantum Learning” (IQL) ketika mengikuti sekolah jarak jauh di California. IQL ini sangat terkait dengan MI. IQL merupakan strategi pembelajaran dengan menghadirkan tokoh. Materi-materi pembelajarannya, terutama yang terkait dengan character building, diajarkan dengan menghadirkan tokoh yang terkait. Kata-kata “Islamic” saya buat sebab hampir 90% tokoh yang saya tampilkan dan yang terkait dengan materi-materi pembelajaran, seperti keberanian, patuh kepada orangtua, kesederhanaan, kepedulian, tanggung jawab, dan lain-lain, adalah tokoh-tokoh real Islam. Mulai dari Muhammad Rasulullah Saw., keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Jarang sekali kita belajar makna keberanian dari tokoh hebat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., yang dengan keperkasaannya mampu merobohkan pintu Khaibar yang kokoh dan kuat.

Oh ya, menurut Anda persoalan-pokok pendidikan di Indonesia itu apa?

Problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Namun saya yakin ada ujung benang kusutnya. Dan akhirnya, suatu saat, tentu dapat diselesaikan. Menurut saya, ujung benang kusut ada dua yaitu sistem dan kualitas sumber daya manusianya. Banyak masalah yang terkait dengan sistem, antara lain yang menonjol adalah sistem pendidikan yang masih sentralistik, terutama dalam wilayah ”output”, yaitu standar kelulusan siswa ditentukan oleh alat tes yang dibuat pusat, bukan oleh guru. Pada wilayah akhir, yang ”salah” inilah yang kemudian menjadi orientasi pendidikan mulai dari wilayah yang pertama yaitu ”input”, dan diikuti oleh prosesnya. Jika sistem di ”output” ini diperbaiki, maka ”input” dan prosesnya akan mengikuti. Betapa banyak kreativitas guru yang lumpuh akibat kondisi output yang ”academic minded”. Yang kedua adalah kualitas SDM, terutama tenaga pengajar. Guru juga manusia yang perlu belajar. Maka peningkatan kualitas dengan pelatihan dan pengembangan adalah hal yang terpenting dalam posting dana pendidikan. Negara yang maju pendidikannya mempunyai ciri-ciri yang hampir sama, yaitu posting dana pendidikan yang cukup besar dan diprioritaskan untuk pengembangan SDM-nya. Jadi, kesimpulannya, agar bisa seperi Jepang dan Finlandia adalah pertama perbaiki sistem mulai dari ”input”, proses, dan ”output”. Kedua sistem tersebut harus diisi oleh SDM yang berkualitas. Sebenarnya sederhana dan klasik. Hanya saja menurut saya pemerintah kita ”sangat politis” dalam mengurusi masalah pendidikan.

Bagaimana Anda memanfaatkan “multiple intelligences” untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia?

Benar Mas Hernowo, saya menciptakan apa yang saya namakan MIR (multiple intelligences research) dan MIS (multiple intelligences system) untuk mengatasi soal “input”, proses, dan “output” di sekolah. Namun, saya tidak akan memberikan penjelasan sepotong-sepotong di sini. Saya persilakan saja para guru, kepala sekolah, atau siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan kita untuk membaca buku saya yang akan beredar pada 1 Mei 2009 nanti, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Di buku saya itu, saya menguraikan secara panjang lebar fungsi “multiple intelligences” terhadap perbaikan sistem pendidikan. Salah satu efek dahsyatnya, setelah saya menerapkan beberapa tahun, “multiple intelligences” dapat membangkitkan potensi para siswa sekaligus membuat para guru dapat menemukan dan berani menciptakan sesuatu yang berbeda. Mereka, para guru itu, menjadi sangat kreatif.[]

sumber: mizan.com