Kamis, 09 Juli 2009

Biarkan Anak Tumbuh Alami

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Charlie, tokoh dalam cerita Charlie and the Chocolate Factory, adalah seorang anak miskin biasa yang jarang mendapat uang jajan, lalu diberikan sedikit uang tabungan kakeknya untuk membeli coklat yang ternyata terdapat sebuah tiket untuk berwisata ke Paberik Cokelat milik William Wongka. Terdapat beberapa anak lain yang menjadi pemenang tiket tersebut. Kemudian perjalanan yang tidak hanya sekedar kunjungan wisata tentang bagaimana proses pembuatan cokelat dibuat, tetapi juga ternyata merupakan suatu ujian untuk mengetes anak-anak tersebut sampai akhirnya tersisa satu orang pemenang. Setelah melalui beberapa ujian tersebut, pada akhirnya Charlie-lah yang menjadi pemenang seorang diri, sehingga ia ditawari untuk menjadi pewaris kekayaan William Wongka. Sementara teman-temannya yang lain, satu per satu tergelincir akibat keserakahan dan keinginan yang berlebihan.

Dari cerita di atas, saya melihat (maksudnya ketika menonton filmnya dulu), anak-anak yang lain, dari golongan menengah ke atas, dengan kehidupan yang serba mudah dan fasilitas yang serba ada, yang dalam pandangan sepintas terlihat bahwa anak-anak tersebut adalah anak-anak yang hebat, memiliki obsesi untuk maju dan berprestasi, anak-anak yang super, dengan segudang penghargaan. Tapi apa yang kemudian terjadi, adalah secara mental mereka ‘terganggu’ menjadi tidak normal, sehingga akhirnya menyebabkan mereka celaka. Namun Charlie dengan segala kepolosan dan keluguannya, mampu menghadapi godaan-godaan.

Saya teringat ketika anak saya dulu terlambat berjalan. Anak saya baru bisa jalan pada usia 17 bulan, sedangkan anak-anak tetangga yang seusianya rata-rata sudah pandai berjalan sejak usia 10-12 bulan. Betapa orang tua mereka sangat bangga karena anaknya sudah berjalan dengan lancar bahkan berlari, sedangkan anak saya masih harus dipegang dengan satu tangan. Jika mengingat masa itu, saya masih terus bersyukur anak saya pada akhirnya juga bisa berjalan. Namun apa yang kemudian terjadi, setelah lancar berjalan, rasa-rasanya tak ada bedanya dengan anak lain yang sudah lebih dulu pandai berjalan. Mereka menjadi sama saja, tidak menjadi misalnya karena sudah lama pandai berjalan, sekarang jadi berjalan dengan cepat. Pun ketika anak saya dulu masih termat sangat kurus karena flek yang dideritanya. Mereka pun merasa bangga karena anaknya mempunyai berat badan 13-14 kg, sedangkan anak saya hanya 8 kg. Saya pun sekarang kembali bersyukur bila mengingat masa-masa itu. Tapi kemudian saya pikir berat badan anak saya naik, bukanlah sesuatu hal untuk dibanggakan. Karena anak-anak yang tadinya lebih gemuk, sekarang sama saja dengan anak saya, yang berat badannya baru naik sekitar 4-5 bulan yang lalu, dan alhamdulillah kemampuan-kemampuan yang lain anak saya bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi di mana dan apanya yang salah? Terkadang orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang beda dari teman-teman seusianya dan berprestasi, sehingga mereka terobsesi menjadikan anak yang super. Dengan menyekolahkan anak sejak usia dini, termasuk (mohon maaf) memasukkan anak ke pesantren yang jaraknya berpuluh km jauhnya dari orang tua, pada usia kelas 1 SD, supaya anaknya menjadi anak penghafal Al-Qur’an. Sebuah cita-cita yang mulia tapi menurut saya mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang orang tua secara penuh, dan memaksanya untuk berpikir seperti halnya orang tuanya berpikir.

Saya pun kembali merenungkan niat menyekolahkan anak saya ke play group. Anak saya minta sekolah (seperti halnya dia minta adik), tapi saya dan suami mencoba mengkajinya kembali, apakah sudah saatnya, ataukah terlalu cepat? Tapi anak saya kelebihan energinya tidak tersalurkan, sehingga sering kali ia merebut komputer saya, atau mengganggu pekerjaan suami. Dia pun jadi anak yang kurang mandiri karena terbiasa selalu ada yang menemani. Tapi tetap saja dalam hati kecil saya merasa ragu untuk menyekolahkannya, meskipun saya sudah mulai mencari-cari info sekolah yang bagus dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Dan sesungguhnya saya ingin anak saya tumbuh dengan alami, sesuai dengan masanya, menikmati masa kanak-kanaknya, tapi apa daya sarana dan suasananya kurang mendukung, meski mainan dan buku sudah menumpuk hingga lama-lama lapuk. Satu kata yang sering keluar dari mulut mungilnya, bosan. Saya pikir juga demikian, dia perlu suasana dan lingkungan yang baru, serta teman-temannya untuk bergaul dan bermain.

Seperti pada suatu ketika, saya sedang berada di suatu majelis pengkajian Al-Qur’an, tentu saja dengan peserta yang homogen. Lalu tiba-tiba anak saya bernyanyi dengan suara yang lantang, padahal di luar ruangan, ‘gila-gilaan bersama teman-teman’ atau ‘lupa, lupa lagi syairnya…’ dan lain-lain. Kontan saya terkejut, bercampur malu, dari mana Nak kau dengar lagu-lagu tersebut? Tapi ternyata tak hanya anak saya, anak-anak yang lain pun dengan lancar saja melantunkan lagu-lagu yang sedang trend, yang nota bene, kata-kata dan maksudnya tidak mereka pahami. Terlebih lagi bila melihat artis-artis cilik di layar televisi, duh…sangat miris melihatnya, mau jadi apa kelak kau dewasa, Nak? Hanya satu harapan dan cita-cita yang tersisa, hendaknya diadakan kursus parenting wajib bagi para calon ibu terutama, sebelum menikah, agar kelak bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar. Mungkinkah?[]

1 komentar: