Kamis, 23 Juli 2009

Anak yang Cerdas

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Mungkin Anda masih berpikir bahwa anak yang cerdas adalah anak yang super, anak yang selalu mencapai suatu tahapan dalam waktu yang cepat, anak yang sudah pandai berhitung dan membaca di usia dini, sehingga Anda cenderung mengharuskan si kecil belajar dengan cara yang serius. Padahal anak-anak yang cerdas, yaitu anak-anak yang:


Senang mengulang-ulang lirik, sajak, lelucon, dan cerita kata demi kata.
Bersiul, bersenandung, menyanyikan lagu-lagu iklan, bergumam, mengeluarkan bunyi aneh dari mulut, atau mengoceh.
Mengetuk-ngetukkan jari, tongkat, atau mainan secara berirama.
Menggambar di kaca kamar mandi yang beruap.
Membongkar mainan.
Mengoleksi benda.
Menciptakan dan bermain dengan teman-teman khayalan.
Mengubah permainan dengan menerapkan aturan khusus.
Meluncur atau berjingkrak-jingkrak dengan memakai kaos kaki di lantai dapur.
Beraksi di atas sepeda, papan luncur, atau sepatu roda.
Memutar-mutar tombol radio untuk mencari acara-acara menarik.
Menyusun balok kayu atau barang lain, lalu merubuhkannya.
Selalu ingin tahu cara kerja berbagai benda.
Menirukan bunyi binatang, mesin, suara tukang jualan yang menjajakan dagangannya, atau suara-suara aneh lain.
Mengatur dan mendekorasi ulang sekelilingnya.
Suka mendengar cerita yang sama secara berulang-ulang.
Menciptakan tarian dengan iringan musik dari radio, televisi, atau CD.
Mencampur ramuan—cairan gula atau busa sabun yang dikocok hingga berbusa.
Berteman dengan anak-anak yang lebih kecil dan binatang, atau memelihara binatang.

Mungkin Anda melihat lusinan gambaran “kecerdasan” di atas dalam diri si kecil, tapi Anda berpikir, “Oh, baru tahu saya! Saya kira si kecil hanya membuat pusing ibunya!” Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak perilaku aneh pada anak-anak mungkin merupakan tanda-tanda khusus dari kecerdasan. Apabila Anda belajar untuk mengenali tanda-tanda tersebut, dan Anda mengembangkannya, Anda bisa membantu si kecil menjadi anak yang lebih cerdas.

(sumber: Seven Times Smarter, Three Rivers Press)

Jumat, 17 Juli 2009

Membesarkan Anak Yang Kreatif

Ibu dan ayah yang ingin membesarkan 'Michel Angelo' baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar 'membiarkan mereka' akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society.

Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu
digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

Biarkan kreativitas mereka berkembang

Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti "bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?". Semakin banyak ataupun semakin 'asing' jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.

Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orangtua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan 'memungkinkan', akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. " 'Memungkinkan' berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu," Grubb menjelaskan.

Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang 'memungkinkan' bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi justru – meskipun tidak besar - cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. "Malah gaya 'memungkinkan' ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap 'memaksa', yang membuat orang tua sering berkata: "Jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya," kata Grubb.

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orangtua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ?

Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.

Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.
(sumber: satumed.com)

Kamis, 09 Juli 2009

Biarkan Anak Tumbuh Alami

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Charlie, tokoh dalam cerita Charlie and the Chocolate Factory, adalah seorang anak miskin biasa yang jarang mendapat uang jajan, lalu diberikan sedikit uang tabungan kakeknya untuk membeli coklat yang ternyata terdapat sebuah tiket untuk berwisata ke Paberik Cokelat milik William Wongka. Terdapat beberapa anak lain yang menjadi pemenang tiket tersebut. Kemudian perjalanan yang tidak hanya sekedar kunjungan wisata tentang bagaimana proses pembuatan cokelat dibuat, tetapi juga ternyata merupakan suatu ujian untuk mengetes anak-anak tersebut sampai akhirnya tersisa satu orang pemenang. Setelah melalui beberapa ujian tersebut, pada akhirnya Charlie-lah yang menjadi pemenang seorang diri, sehingga ia ditawari untuk menjadi pewaris kekayaan William Wongka. Sementara teman-temannya yang lain, satu per satu tergelincir akibat keserakahan dan keinginan yang berlebihan.

Dari cerita di atas, saya melihat (maksudnya ketika menonton filmnya dulu), anak-anak yang lain, dari golongan menengah ke atas, dengan kehidupan yang serba mudah dan fasilitas yang serba ada, yang dalam pandangan sepintas terlihat bahwa anak-anak tersebut adalah anak-anak yang hebat, memiliki obsesi untuk maju dan berprestasi, anak-anak yang super, dengan segudang penghargaan. Tapi apa yang kemudian terjadi, adalah secara mental mereka ‘terganggu’ menjadi tidak normal, sehingga akhirnya menyebabkan mereka celaka. Namun Charlie dengan segala kepolosan dan keluguannya, mampu menghadapi godaan-godaan.

Saya teringat ketika anak saya dulu terlambat berjalan. Anak saya baru bisa jalan pada usia 17 bulan, sedangkan anak-anak tetangga yang seusianya rata-rata sudah pandai berjalan sejak usia 10-12 bulan. Betapa orang tua mereka sangat bangga karena anaknya sudah berjalan dengan lancar bahkan berlari, sedangkan anak saya masih harus dipegang dengan satu tangan. Jika mengingat masa itu, saya masih terus bersyukur anak saya pada akhirnya juga bisa berjalan. Namun apa yang kemudian terjadi, setelah lancar berjalan, rasa-rasanya tak ada bedanya dengan anak lain yang sudah lebih dulu pandai berjalan. Mereka menjadi sama saja, tidak menjadi misalnya karena sudah lama pandai berjalan, sekarang jadi berjalan dengan cepat. Pun ketika anak saya dulu masih termat sangat kurus karena flek yang dideritanya. Mereka pun merasa bangga karena anaknya mempunyai berat badan 13-14 kg, sedangkan anak saya hanya 8 kg. Saya pun sekarang kembali bersyukur bila mengingat masa-masa itu. Tapi kemudian saya pikir berat badan anak saya naik, bukanlah sesuatu hal untuk dibanggakan. Karena anak-anak yang tadinya lebih gemuk, sekarang sama saja dengan anak saya, yang berat badannya baru naik sekitar 4-5 bulan yang lalu, dan alhamdulillah kemampuan-kemampuan yang lain anak saya bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi di mana dan apanya yang salah? Terkadang orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang beda dari teman-teman seusianya dan berprestasi, sehingga mereka terobsesi menjadikan anak yang super. Dengan menyekolahkan anak sejak usia dini, termasuk (mohon maaf) memasukkan anak ke pesantren yang jaraknya berpuluh km jauhnya dari orang tua, pada usia kelas 1 SD, supaya anaknya menjadi anak penghafal Al-Qur’an. Sebuah cita-cita yang mulia tapi menurut saya mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang orang tua secara penuh, dan memaksanya untuk berpikir seperti halnya orang tuanya berpikir.

Saya pun kembali merenungkan niat menyekolahkan anak saya ke play group. Anak saya minta sekolah (seperti halnya dia minta adik), tapi saya dan suami mencoba mengkajinya kembali, apakah sudah saatnya, ataukah terlalu cepat? Tapi anak saya kelebihan energinya tidak tersalurkan, sehingga sering kali ia merebut komputer saya, atau mengganggu pekerjaan suami. Dia pun jadi anak yang kurang mandiri karena terbiasa selalu ada yang menemani. Tapi tetap saja dalam hati kecil saya merasa ragu untuk menyekolahkannya, meskipun saya sudah mulai mencari-cari info sekolah yang bagus dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Dan sesungguhnya saya ingin anak saya tumbuh dengan alami, sesuai dengan masanya, menikmati masa kanak-kanaknya, tapi apa daya sarana dan suasananya kurang mendukung, meski mainan dan buku sudah menumpuk hingga lama-lama lapuk. Satu kata yang sering keluar dari mulut mungilnya, bosan. Saya pikir juga demikian, dia perlu suasana dan lingkungan yang baru, serta teman-temannya untuk bergaul dan bermain.

Seperti pada suatu ketika, saya sedang berada di suatu majelis pengkajian Al-Qur’an, tentu saja dengan peserta yang homogen. Lalu tiba-tiba anak saya bernyanyi dengan suara yang lantang, padahal di luar ruangan, ‘gila-gilaan bersama teman-teman’ atau ‘lupa, lupa lagi syairnya…’ dan lain-lain. Kontan saya terkejut, bercampur malu, dari mana Nak kau dengar lagu-lagu tersebut? Tapi ternyata tak hanya anak saya, anak-anak yang lain pun dengan lancar saja melantunkan lagu-lagu yang sedang trend, yang nota bene, kata-kata dan maksudnya tidak mereka pahami. Terlebih lagi bila melihat artis-artis cilik di layar televisi, duh…sangat miris melihatnya, mau jadi apa kelak kau dewasa, Nak? Hanya satu harapan dan cita-cita yang tersisa, hendaknya diadakan kursus parenting wajib bagi para calon ibu terutama, sebelum menikah, agar kelak bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar. Mungkinkah?[]

Selasa, 16 Juni 2009

Berbagai Gaya Orang Tua

Oleh: Liswidyawati Rahayu

Kondisi ketidakpatutan dalam memperlakukan anak, seperti yang diutarakan Dewi Utama Faizah tentang Superkids, melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan "miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents-- (ORTU Borju)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak klompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents --- (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids". Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents --(ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Do-it Yourself Parents Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids"- -earlier is better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids " Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya.

Prodigy Parents --(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca" karangan Glenn Doman, atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang " karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 6 Hari" karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents--(ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-¬anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka.
Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak- kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation " dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik !

KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YANG LEBIH TINGGI, ATAU LEBIH KUAT, ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA KENANGAN INDAH TERUTAMA KENANGAN MANIS DI MASA KANAK-KANAK. KAMU MENDENGAR BANYAK HAL TENTANG PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YANG INDAH, KENANGAN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK. APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN INDAH DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHIDUPANNYA AKAN TERSELAMATKAN. BAHKAN APABILA HANYA ADA SATU SAJA KENANGAN INDAH YANG TERSIMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENANGAN YANG AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA"
-DESTOYEVSKY' S BROTHERS KARAM0Z0V---

Minggu, 07 Juni 2009

ANAK-ANAK KARBITAN ( SUPERKIDS)

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu...

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana-mana orangtua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua.

Captive market I
Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Disamping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya! Anak-Anak Yang Digegas.

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya sejak si anak masih benapa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State University . Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.

Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif.

Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia.

"Early Ripe, Early Rot...!"
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan "peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya.

Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak- kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula. Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal "The Process of Education" pada lahun 1960, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. "We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development". Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk...

early ripe, early rot!
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana bekutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan- readiness " dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological limitations on learning'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun. Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi "miniature orang dewasa ".

Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak-anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa sebagai seksual promosi yang menyesatkan.

Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak lumbuh kembang secara cepat. Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa.

Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki "Heintje" di era tahun 70-an...
I 'm Nobody'S Child I'M NOBODY'S CHILD
I'M nobody's child I'm nobodys child Just like a flower
I'm growing wild No mommies kisses and no daddy's smile Nobody's touch me
I'm nobody's child

Dampak Berikutnya Terjadi ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan-segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia 0' Brien menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood'. "Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman temannya. "Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks " serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar.... kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, .... sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak menuliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada babysitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya "be special " daripada "be average or normal semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi "to exel to be the best". Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya...maka lahirlah anak-anak super---"SUPERKIDS' ". Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah...ketika anak-anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan!

Oleh Dewi Utama Faizah*)

*) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Minggu, 31 Mei 2009

Manfaat Cerita Lucu untuk Anak

Setiap anak secara naluriah senang dengan cerita/dongeng. Seiring dengan kemampuannya dalam berbicara, anak semakin haus untuk mendengarkan cerita. Tetapi cerita seperti apakah yang bagus dikonsumsi anak-anak, apakah semua cerita atau terdapat syarat-syarat tertentu? Dan bagaimana cara bercerita yang baik, serta apa manfaatnya bagi si anak?

Bercerita pada anak, selain meningkatkan kecintaan pada bacaan dan buku, sekaligus dapat membangun aspek kepribadian anak. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat mempengaruhi cara berfikir, bersikap dan bertindak pada seorang anak. Tetapi kita sebagai orang tua harus jeli, bahwa tidak semua buku/cerita yang menarik itu bergizi. Buku/cerita yang menarik dan bergizi adalah buku/cerita yang merangsang pikiran, perasaan dan imajinasi anak untuk berkembang.

Usahakan memberi anak buku-buku yang dari awal hingga akhir cerita menampilkan gagasan positif, sehingga anak betul-betul terbawa suasana, menimbulkan hasrat untuk bertindak dan mempengaruhi mentalnya.

Lalu bagaimana dengan cerita lucu? Cerita yang lucu sudah pasti memiliki daya tarik tersendiri. Prinsipnya bahwa cerita harus memiliki nilai tanggung jawab dalam pengembangan kepribadian anak. Secara psikologis cerita lucu selalu mendatangkan kebahagiaan. Jika anak bahagia, maka dia akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang kita ajarkan.

Menurut Ibu Elia Daryati, Psi., dampak cerita lucu pada kepribadian anak, yaitu akan mempengaruhi aspek : kognitif, afektif, dan konasi. Kognitif yaitu akan mempermudah proses pembelajaran pada anak, karena kemampuan berpikir lebih mudah menyerap. Afektif yaitu akan mempengaruhi suasana perasaan dan hati pada anak, yang efeknya yaitu kebahagiaan dan perasaan positif.

Jika anak sering menerima cerita lucu, maka anak akan menjadi anak yang ceria. Gambaran anak yang ceria, bukan sekedar anak yang jarang menangis dan senang tertawa, melainkan anak yang secara keseluruhan merasa bahagia, yaitu anak yang senang belajar, kreatif dan mandiri.

Sementara pada saat ini seringkali cerita lucu itu menggunakan bahasa-bahasa yang kurang sopan, atau penghinaan secara fisik. Jadi terdapat perbedaan antara cerita lucu dengan clowning (membadut). Clowning atau membadut diberikan pada cerita atau perilaku yang tampak kebodoh-bodohan atau konyol. Hal yang seperti ini akan berdampak negatif pada perkembangan anak, karena anak akan meniru, belajar untuk memaki dan melecehkan kondisi fisik orang lain.[]

“Multiple Intelligences” dan Pendidikan di Indonesia

“Anak-anak yang kita anggap ‘istimewa’ adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tidak diapresiasi budaya kita. Rasyid dan Dani punya kecerdasan visual yang menakjubkan, tetapi sekolah-sekolah kita mengabaikannya,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam mengantarkan buku karya Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak.

Dalam pengantarnya itu, Jalaluddin Rakhmat tak lupa menjelaskan secara detail betapa “multiple intelligences” (MI)—sebuah konsep-baru kecerdasan yang ditemukan oleh Prof. Howard Gardner—telah membantunya untuk mengatasi problem-problem yang menimpa para siswa yang bersekolah di SMA Plus Muthahhari.“Saya sangat bersyukur kepada Thomas R. Hoerr, Kepala Sekolah seperti saya,” lanjut Jalaluddin Rakhmat mengenang apa yang dilakukan oleh Hoerr, “yang pernah melakukan percobaan untuk mengaplikasikan MI pada sekolah yang dipimpinannya.

Buku ini tidak saja menceritakan tahap-tahap penerapan MI, bahkan mencantumkan dengan lengkap alat-alat administratif seperti Laporan Perkembangan Setiap Kecerdasan murid. Hoerr menulis buku ini dengan semangat untuk berbagi pengalaman—suka dan duka—dengan siapa pun yang terlibat dalam pengembangan generasi masa depan.”

Sebagaimana telah banyak diketahui, Gardner menciptakan “multiple intelligences” untuk menunjukkan kepada siapa saja—khususnya para pendidik—bahwa ada sedikitnya sembilan potensi kecerdasan yang disimpan oleh setiap manusia. Apabila seorang anak tidak dilahirkan cacat otaknya, anak tersebut akan mampu mengembangkan kesembilan kecerdasan tersebut atau dia pasti memiliki satu atau dua kecerdasan yang sangat menonjol.

Kesembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik dan matematis (dua kecerdasan yang sudah diidentifikasi oleh Alferd Binet yang disebut sebagai IQ); intrapersonal dan interpersonal (yang diteliti oleh Joseph E. LeDoux dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman serta disimbolkan dengan EQ); visual, musik, kinetetis, dan alam (yang kadang, sebelum diidentifikasi oleh Gardner, masuk dalam kategori bakat); serta eksistensial (kadang disamakan dengan kecerdasan spiritual atau sering disimbolkan dengan SQ meskipun Gardner tidak setuju).

Untuk keperluan pendidikan, “multiple intelligences” ini kadang digunakan sebagai “pintu masuk” dalam menjadikan seorang anak didik dapat menerima pemberian matapelajaran dari seorang guru sesuai “cara alamiah” yang dimiliki si anak didik. Tentu saja, penggunaan “multiple intelligences” seperti ini diperlukan lebih dahulu semacam pengecekan (untuk tidak mengatakan pengetesan karena Gardner tidak setuju jika kecerdasan yang menonjol pada seorang anak itu dites). Hanya, perlu diperhatikan bahwa pengecekan jenis-jenis “multiple intelligences” yang menonjol pada seorang anak didik tidak dapat dikatakan memberikan hasil permanen. Setiap jenis kecerdasan yang dimiliki seorang anak didik senantiasa terus berkembang hingga tidak terbatas. Ada sih kondisi akhir di mana kecerdasan itu dapat mencapai puncak. Namun, pada usia berapa dan pada saat bagaimana, sepertinya ini masih merupakan sebuah misteri.

Sebaliknya dari fokus kepada anak didik, banyak para pakar “multiple intelligences”—seperti Thomas Armstrong yang menulis buku bagus Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan—menganjurkan agar para guru mulai memberdayakan dirinya dengan menguasai dan mencoba menerapkan teori Howard Gardner ini. “Jadikanlah diri Anda sebuah potensi yang sangat kreatif dengan memanfaatkan ‘multiple intelligences’,” demikian seolah-olah pesan yang digaungkan para pakar dan ditujukan kepada para guru.

“Multiple intelligences” memang dapat membuat seorang guru memiliki variasi mengajar yang sangat tidak terbatas. Dengan memanfaatkan pelbagai kombinasi dari setiap kecerdasan itu—baik itu suara dikombinasikan dengan gerakan atau suasana alam, dan masih banyak lagi—ada kemungkinan sebuah kegiatan belajar-mengajar tidak berlangsung membosankan.

Demikianlah, sebuah teori telah merembes masuk ke dunia pendidikan di Indonesia. Ada yang memerhatikan, ada yang tidak. Ada yang memahami secara mendalam, ada yang hanya ingin tahu saja. Ada yang memanfaatkan teori-baru tersebut, ada juga yang masih bertahan dengan teori-lama. Alangkah baiknya apabila kita—merujuk ke konsep “multiple intelligences” temuan Howard Gardner yang memberikan banyak alternatif baru untuk menjalankan sistem pendidikan di mana pun kita berada—mengenang kata-kata bagus dari John Alston dan Lloyd Thaxton, “Ada yang dapat memahami, ada yang tidak. Yang memahami ada yang bertindak, ada yang tidak. Mereka yang bertindak akan berhasil, dan mereka yang tidak bertindak akan gagal.”[]

sumber: mizan.com

Segitiga Emas Strategi Pembelajaran Efektif

Sebuah lesson plan yang cukup berhasil diminati oleh para siswa dalam berbagai jenjang berjudul ”Log Cabin Abraham Lincoln”. Tidak hanya oleh para siswa, para guru pun tidak mau melewatkan mengajar tanpa lesson plan ini. Kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah kemampuan memahami gaya hidup sederhana. Di mana menariknya?

Pada jenjang TK, kesederhanaan diwakili oleh sosok Abraham Lincoln. Kenapa Abraham Lincoln? Sebab dia adalah presiden Amerika Serikat yang paling sederhana gaya hidupnya. Dikabarkan bahwa dia tidak mau berkantor di Gedung Putih dan menempati rumah sederhananya yang terbuat dari kayu (log cabin). Dengan berbagai strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru, seperti strategi wayang, dengan sarung tangan berbentuk Abraham Lincoln, seorang guru bercerita dengan menariknya sampai membuat semua siswa terkesima. Apalagi ketika sampai pada puncak kepahlawanan Abraham Lincoln. Semua siswa berdiri dan bertepuk tangan seiring dengan gerakan lucu boneka tangan Abraham Lincoln.

Ada lagi strategi lain yang dapat dilakukan seorang guru, yaitu dengan menonton film Abraham Lincoln atau dengan membacakan buku cerita tentang Abraham Lincoln. Walhasil, ada banyak strategi pembelajaran tentang kesederhanaan dengan menampilkan sosok Abraham Lincoln. Kegiatan belajar-mengajar seperti ini akan banyak memberikan inspirasi bagi para siswa. Guru tidak memulai pembelajarannya dengan pernyataan definitif kepada siswanya. ”Anak-anak, dengar ya … catat ya …. Yang dimaksud dengan kesederhanaan adalah gaya hidup yang bla..bla…bla …” Praktis, banyak siswa yang menatap sebentar lalu menoleh ke kanan-kiri lalu berbicara sendiri atau mengantuk dan akhirnya tertidur apabila kelas membosankan seperti itu.

Menampilkan tokoh Abraham Lincoln dengan berbagai cara yang menarik akan membantu para siswa memberikan contoh nyata ketika para siswa ditanya apa yang dimaksud hidup sederhana. Rata-rata, para siswa akan bergairah dan secara serentak menjawab, seperti Abraham Lincoln, rumahnya saja dari kayu sangat sederhana. Dari jawaban tersebut diperoleh kenyataan bahwa kehidupan sederhana dapat didefinisikan secara luas, tidak sempit, dan tepat karena dapat juga dirasakan oleh mereka.

Lesson plan ini tidak hanya berhenti di situ. Setelah cerita tentang sosok Abraham Lincoln, siswa-siswa usia TK diminta membuat log cabin atau rumah kayunya Abraham Lincoln dari kue cokelat dan kue-kue kering. Lalu hasil karya itu dipamerkan kepada orangtuanya dan guru-gurunya. Setelah puas, mereka memakannya bersama-sama. Sebuah proses belajar yang menarik dan menyenangkan.

Bagi siswa-siswa pada jenjang yang lebih tinggi, SD atau SMP, mereka diminta membuat log cabin mini dan apabila di halaman belakang rumah terdapat pohon yang cukup besar dan rindang, log cabin mini tersebut mereka letakkan di atas pohon tersebut. Mereka biasa menyebutnya dengan rumah pohon. Mereka akan puas sekali melihat hasil karyanya. Selain memahami betul makna kesederhanaan dari karyanya, mereka juga selalu terinspirasi dengan Abraham Lincoln. Log cabin di atas pohon itu selalu dijadikan tempat untuk belajar bersama, merencanakan proyek-proyek lain, dan lain-lain.

Bayangkan, betapa cantiknya proses belajar di atas. Munib Chatib menyebut strategi atau metode pembelajaran dengan penokohan itu dengan nama SEGITIGA EMAS. Sebuah segitiga memiliki tiga sudut. Satu sudut di atas dan dua sudut lainnya di bawah. Sudut pertama di atas adalah MATERI yang akan diajarkan. Materi apa saja yang terkait dengan karakter atau yang lainnya, misalnya kesederhanaan, keberanian, patuh kepada orangtua, dan lain-lain. Sudut yang kedua adalah menemukan TOKOH. Materi yang definitif tersebut dimunculkan dengan seorang tokoh yang mewakili materi tersebut. Abraham Lincoln adalah tokoh yang mewakili materi kesederhanaan. Sedangkan sudut yang ketiga adalah AKTIVITAS. Aktivitas ini adalah kegiatan membuat produk atau karya yang terkait antara materi dengan sang tokoh. Dalam lesson plan di atas, produk yang ditampilkan adalah membuat log cabin.

Penokohan, pada hakikatnya, adalah membangun citra. Sementara itu, aktivitas pada hakikatnya adalah modalitas yang paling disukai oleh otak. Artinya perpaduan antara PENOKOHAN dan AKTIVITAS menjadi kombinasi strategi pembelajaran yang efektif bagi siswa.

Dalam karya tulis Munib yang berjudul ”Islamic Quantum Learning”, Munib secara lebih detail memaparkan kualitas dari PENOKOHAN ini. Bagaimana jika tokoh yang ditampilkan adalah tokoh FIKTIF dan bukan tokoh REAL. Apakah dua jenis tokoh tersebut akan mempunyai dampak penguatan memori yang sama atau berbeda? Munib katanya akan mengulas persoalan penting ini pada kesempatan lain.[]

sumber: mizan.com

Apa yang Dapat Disumbangkan “Multiple Intelligences” untuk Indonesia?

Apabila kita ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan yang dijadikan subjek berita ini, kita dapat meminta tolong seorang Munif Chatib untuk menjawabnya. Munif Chatib semula adalah seorang sarjana hukum. Namun, nalurinya mengarahkan karier sarjana hukumnya ke bidang pendidikan. Akhirnya, Munif tidak kuat menahan desakan nalurinya dan ikutlah dia, pada suatu ketika, ke sebuah pendidikan jarak jauh milik Bobbi DePorter: Supercamp Oceanside California, USA.

Ketika ingin menyelesaikan studi jarak jauhnya itu, dia harus membuat semacam paper yang berisi atas gagasan-inovatifnya. Dia pun mengajukan sebuah paper dengan judul tidak biasa, “Islamic Quantum Learning”. Apa yang terjadi selanjutnya? Munif Chatib menjadi “Top 10” lulusan seangkatannya. Dan dia adalah satu-satunya peserta dari Indonesia yang masuk dalam peringkat kelima. Sebuah prestasi yang unik dan, tentu saja, membanggakan.

Kini, Munif Chatib adalah seorang konsultan pendidikan yang memiliki klien tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.Berikut ini adalah cuplikan wawancara antara Hernowo dengan Munif Chatib. Wawancara seutuhnya, dimuat di majalah Madina, tepatnya di rubrik “Teraju: Gaya Hidup Buku”. Munif adalah salah seorang yang berhasil menerapkan “multiple intelligences” di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah yang berada Jawa Timur. Rancangannya yang diberi nama MIR (multiple intelligences research) dan MIS (multiple intelligences system) telah membantunya mengubah sekolah-sekolah di kawasan Jawa Timur tersebut.

Mengapa Anda tertarik menekuni Multiple Intelligences (MI)?

Faktor utama yang menyebabkan saya tertarik menekuni MI adalah sifat MI yang begitu ”manusiawi”. Tiba-tiba setiap orang mempunyai potensi untuk menunjukkan ”benefiditas”-nya, dalam kondisi apa pun. Sebenarnya Howard Gardner menaungi lembaga psikologi yang bernama ‘project zero’ di Harvard University yang merupakan salah satu stakeholder dari Learning Forum-Supercamp yang dikomandani oleh Bobbi DePorter. Selain “project zero”, masih banyak lagi stakeholder yang terkait. Saya pernah menciptakan “Islamic Quantum Learning” (IQL) ketika mengikuti sekolah jarak jauh di California. IQL ini sangat terkait dengan MI. IQL merupakan strategi pembelajaran dengan menghadirkan tokoh. Materi-materi pembelajarannya, terutama yang terkait dengan character building, diajarkan dengan menghadirkan tokoh yang terkait. Kata-kata “Islamic” saya buat sebab hampir 90% tokoh yang saya tampilkan dan yang terkait dengan materi-materi pembelajaran, seperti keberanian, patuh kepada orangtua, kesederhanaan, kepedulian, tanggung jawab, dan lain-lain, adalah tokoh-tokoh real Islam. Mulai dari Muhammad Rasulullah Saw., keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Jarang sekali kita belajar makna keberanian dari tokoh hebat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., yang dengan keperkasaannya mampu merobohkan pintu Khaibar yang kokoh dan kuat.

Oh ya, menurut Anda persoalan-pokok pendidikan di Indonesia itu apa?

Problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Namun saya yakin ada ujung benang kusutnya. Dan akhirnya, suatu saat, tentu dapat diselesaikan. Menurut saya, ujung benang kusut ada dua yaitu sistem dan kualitas sumber daya manusianya. Banyak masalah yang terkait dengan sistem, antara lain yang menonjol adalah sistem pendidikan yang masih sentralistik, terutama dalam wilayah ”output”, yaitu standar kelulusan siswa ditentukan oleh alat tes yang dibuat pusat, bukan oleh guru. Pada wilayah akhir, yang ”salah” inilah yang kemudian menjadi orientasi pendidikan mulai dari wilayah yang pertama yaitu ”input”, dan diikuti oleh prosesnya. Jika sistem di ”output” ini diperbaiki, maka ”input” dan prosesnya akan mengikuti. Betapa banyak kreativitas guru yang lumpuh akibat kondisi output yang ”academic minded”. Yang kedua adalah kualitas SDM, terutama tenaga pengajar. Guru juga manusia yang perlu belajar. Maka peningkatan kualitas dengan pelatihan dan pengembangan adalah hal yang terpenting dalam posting dana pendidikan. Negara yang maju pendidikannya mempunyai ciri-ciri yang hampir sama, yaitu posting dana pendidikan yang cukup besar dan diprioritaskan untuk pengembangan SDM-nya. Jadi, kesimpulannya, agar bisa seperi Jepang dan Finlandia adalah pertama perbaiki sistem mulai dari ”input”, proses, dan ”output”. Kedua sistem tersebut harus diisi oleh SDM yang berkualitas. Sebenarnya sederhana dan klasik. Hanya saja menurut saya pemerintah kita ”sangat politis” dalam mengurusi masalah pendidikan.

Bagaimana Anda memanfaatkan “multiple intelligences” untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia?

Benar Mas Hernowo, saya menciptakan apa yang saya namakan MIR (multiple intelligences research) dan MIS (multiple intelligences system) untuk mengatasi soal “input”, proses, dan “output” di sekolah. Namun, saya tidak akan memberikan penjelasan sepotong-sepotong di sini. Saya persilakan saja para guru, kepala sekolah, atau siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan kita untuk membaca buku saya yang akan beredar pada 1 Mei 2009 nanti, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Di buku saya itu, saya menguraikan secara panjang lebar fungsi “multiple intelligences” terhadap perbaikan sistem pendidikan. Salah satu efek dahsyatnya, setelah saya menerapkan beberapa tahun, “multiple intelligences” dapat membangkitkan potensi para siswa sekaligus membuat para guru dapat menemukan dan berani menciptakan sesuatu yang berbeda. Mereka, para guru itu, menjadi sangat kreatif.[]

sumber: mizan.com