Setiap anak secara naluriah senang dengan cerita/dongeng. Seiring dengan kemampuannya dalam berbicara, anak semakin haus untuk mendengarkan cerita. Tetapi cerita seperti apakah yang bagus dikonsumsi anak-anak, apakah semua cerita atau terdapat syarat-syarat tertentu? Dan bagaimana cara bercerita yang baik, serta apa manfaatnya bagi si anak?
Bercerita pada anak, selain meningkatkan kecintaan pada bacaan dan buku, sekaligus dapat membangun aspek kepribadian anak. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat mempengaruhi cara berfikir, bersikap dan bertindak pada seorang anak. Tetapi kita sebagai orang tua harus jeli, bahwa tidak semua buku/cerita yang menarik itu bergizi. Buku/cerita yang menarik dan bergizi adalah buku/cerita yang merangsang pikiran, perasaan dan imajinasi anak untuk berkembang.
Usahakan memberi anak buku-buku yang dari awal hingga akhir cerita menampilkan gagasan positif, sehingga anak betul-betul terbawa suasana, menimbulkan hasrat untuk bertindak dan mempengaruhi mentalnya.
Lalu bagaimana dengan cerita lucu? Cerita yang lucu sudah pasti memiliki daya tarik tersendiri. Prinsipnya bahwa cerita harus memiliki nilai tanggung jawab dalam pengembangan kepribadian anak. Secara psikologis cerita lucu selalu mendatangkan kebahagiaan. Jika anak bahagia, maka dia akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang kita ajarkan.
Menurut Ibu Elia Daryati, Psi., dampak cerita lucu pada kepribadian anak, yaitu akan mempengaruhi aspek : kognitif, afektif, dan konasi. Kognitif yaitu akan mempermudah proses pembelajaran pada anak, karena kemampuan berpikir lebih mudah menyerap. Afektif yaitu akan mempengaruhi suasana perasaan dan hati pada anak, yang efeknya yaitu kebahagiaan dan perasaan positif.
Jika anak sering menerima cerita lucu, maka anak akan menjadi anak yang ceria. Gambaran anak yang ceria, bukan sekedar anak yang jarang menangis dan senang tertawa, melainkan anak yang secara keseluruhan merasa bahagia, yaitu anak yang senang belajar, kreatif dan mandiri.
Sementara pada saat ini seringkali cerita lucu itu menggunakan bahasa-bahasa yang kurang sopan, atau penghinaan secara fisik. Jadi terdapat perbedaan antara cerita lucu dengan clowning (membadut). Clowning atau membadut diberikan pada cerita atau perilaku yang tampak kebodoh-bodohan atau konyol. Hal yang seperti ini akan berdampak negatif pada perkembangan anak, karena anak akan meniru, belajar untuk memaki dan melecehkan kondisi fisik orang lain.[]
Minggu, 31 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar