Minggu, 31 Mei 2009

Segitiga Emas Strategi Pembelajaran Efektif

Sebuah lesson plan yang cukup berhasil diminati oleh para siswa dalam berbagai jenjang berjudul ”Log Cabin Abraham Lincoln”. Tidak hanya oleh para siswa, para guru pun tidak mau melewatkan mengajar tanpa lesson plan ini. Kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah kemampuan memahami gaya hidup sederhana. Di mana menariknya?

Pada jenjang TK, kesederhanaan diwakili oleh sosok Abraham Lincoln. Kenapa Abraham Lincoln? Sebab dia adalah presiden Amerika Serikat yang paling sederhana gaya hidupnya. Dikabarkan bahwa dia tidak mau berkantor di Gedung Putih dan menempati rumah sederhananya yang terbuat dari kayu (log cabin). Dengan berbagai strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru, seperti strategi wayang, dengan sarung tangan berbentuk Abraham Lincoln, seorang guru bercerita dengan menariknya sampai membuat semua siswa terkesima. Apalagi ketika sampai pada puncak kepahlawanan Abraham Lincoln. Semua siswa berdiri dan bertepuk tangan seiring dengan gerakan lucu boneka tangan Abraham Lincoln.

Ada lagi strategi lain yang dapat dilakukan seorang guru, yaitu dengan menonton film Abraham Lincoln atau dengan membacakan buku cerita tentang Abraham Lincoln. Walhasil, ada banyak strategi pembelajaran tentang kesederhanaan dengan menampilkan sosok Abraham Lincoln. Kegiatan belajar-mengajar seperti ini akan banyak memberikan inspirasi bagi para siswa. Guru tidak memulai pembelajarannya dengan pernyataan definitif kepada siswanya. ”Anak-anak, dengar ya … catat ya …. Yang dimaksud dengan kesederhanaan adalah gaya hidup yang bla..bla…bla …” Praktis, banyak siswa yang menatap sebentar lalu menoleh ke kanan-kiri lalu berbicara sendiri atau mengantuk dan akhirnya tertidur apabila kelas membosankan seperti itu.

Menampilkan tokoh Abraham Lincoln dengan berbagai cara yang menarik akan membantu para siswa memberikan contoh nyata ketika para siswa ditanya apa yang dimaksud hidup sederhana. Rata-rata, para siswa akan bergairah dan secara serentak menjawab, seperti Abraham Lincoln, rumahnya saja dari kayu sangat sederhana. Dari jawaban tersebut diperoleh kenyataan bahwa kehidupan sederhana dapat didefinisikan secara luas, tidak sempit, dan tepat karena dapat juga dirasakan oleh mereka.

Lesson plan ini tidak hanya berhenti di situ. Setelah cerita tentang sosok Abraham Lincoln, siswa-siswa usia TK diminta membuat log cabin atau rumah kayunya Abraham Lincoln dari kue cokelat dan kue-kue kering. Lalu hasil karya itu dipamerkan kepada orangtuanya dan guru-gurunya. Setelah puas, mereka memakannya bersama-sama. Sebuah proses belajar yang menarik dan menyenangkan.

Bagi siswa-siswa pada jenjang yang lebih tinggi, SD atau SMP, mereka diminta membuat log cabin mini dan apabila di halaman belakang rumah terdapat pohon yang cukup besar dan rindang, log cabin mini tersebut mereka letakkan di atas pohon tersebut. Mereka biasa menyebutnya dengan rumah pohon. Mereka akan puas sekali melihat hasil karyanya. Selain memahami betul makna kesederhanaan dari karyanya, mereka juga selalu terinspirasi dengan Abraham Lincoln. Log cabin di atas pohon itu selalu dijadikan tempat untuk belajar bersama, merencanakan proyek-proyek lain, dan lain-lain.

Bayangkan, betapa cantiknya proses belajar di atas. Munib Chatib menyebut strategi atau metode pembelajaran dengan penokohan itu dengan nama SEGITIGA EMAS. Sebuah segitiga memiliki tiga sudut. Satu sudut di atas dan dua sudut lainnya di bawah. Sudut pertama di atas adalah MATERI yang akan diajarkan. Materi apa saja yang terkait dengan karakter atau yang lainnya, misalnya kesederhanaan, keberanian, patuh kepada orangtua, dan lain-lain. Sudut yang kedua adalah menemukan TOKOH. Materi yang definitif tersebut dimunculkan dengan seorang tokoh yang mewakili materi tersebut. Abraham Lincoln adalah tokoh yang mewakili materi kesederhanaan. Sedangkan sudut yang ketiga adalah AKTIVITAS. Aktivitas ini adalah kegiatan membuat produk atau karya yang terkait antara materi dengan sang tokoh. Dalam lesson plan di atas, produk yang ditampilkan adalah membuat log cabin.

Penokohan, pada hakikatnya, adalah membangun citra. Sementara itu, aktivitas pada hakikatnya adalah modalitas yang paling disukai oleh otak. Artinya perpaduan antara PENOKOHAN dan AKTIVITAS menjadi kombinasi strategi pembelajaran yang efektif bagi siswa.

Dalam karya tulis Munib yang berjudul ”Islamic Quantum Learning”, Munib secara lebih detail memaparkan kualitas dari PENOKOHAN ini. Bagaimana jika tokoh yang ditampilkan adalah tokoh FIKTIF dan bukan tokoh REAL. Apakah dua jenis tokoh tersebut akan mempunyai dampak penguatan memori yang sama atau berbeda? Munib katanya akan mengulas persoalan penting ini pada kesempatan lain.[]

sumber: mizan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar