“Anak-anak yang kita anggap ‘istimewa’ adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tidak diapresiasi budaya kita. Rasyid dan Dani punya kecerdasan visual yang menakjubkan, tetapi sekolah-sekolah kita mengabaikannya,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam mengantarkan buku karya Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak.
Dalam pengantarnya itu, Jalaluddin Rakhmat tak lupa menjelaskan secara detail betapa “multiple intelligences” (MI)—sebuah konsep-baru kecerdasan yang ditemukan oleh Prof. Howard Gardner—telah membantunya untuk mengatasi problem-problem yang menimpa para siswa yang bersekolah di SMA Plus Muthahhari.“Saya sangat bersyukur kepada Thomas R. Hoerr, Kepala Sekolah seperti saya,” lanjut Jalaluddin Rakhmat mengenang apa yang dilakukan oleh Hoerr, “yang pernah melakukan percobaan untuk mengaplikasikan MI pada sekolah yang dipimpinannya.
Buku ini tidak saja menceritakan tahap-tahap penerapan MI, bahkan mencantumkan dengan lengkap alat-alat administratif seperti Laporan Perkembangan Setiap Kecerdasan murid. Hoerr menulis buku ini dengan semangat untuk berbagi pengalaman—suka dan duka—dengan siapa pun yang terlibat dalam pengembangan generasi masa depan.”
Sebagaimana telah banyak diketahui, Gardner menciptakan “multiple intelligences” untuk menunjukkan kepada siapa saja—khususnya para pendidik—bahwa ada sedikitnya sembilan potensi kecerdasan yang disimpan oleh setiap manusia. Apabila seorang anak tidak dilahirkan cacat otaknya, anak tersebut akan mampu mengembangkan kesembilan kecerdasan tersebut atau dia pasti memiliki satu atau dua kecerdasan yang sangat menonjol.
Kesembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik dan matematis (dua kecerdasan yang sudah diidentifikasi oleh Alferd Binet yang disebut sebagai IQ); intrapersonal dan interpersonal (yang diteliti oleh Joseph E. LeDoux dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman serta disimbolkan dengan EQ); visual, musik, kinetetis, dan alam (yang kadang, sebelum diidentifikasi oleh Gardner, masuk dalam kategori bakat); serta eksistensial (kadang disamakan dengan kecerdasan spiritual atau sering disimbolkan dengan SQ meskipun Gardner tidak setuju).
Untuk keperluan pendidikan, “multiple intelligences” ini kadang digunakan sebagai “pintu masuk” dalam menjadikan seorang anak didik dapat menerima pemberian matapelajaran dari seorang guru sesuai “cara alamiah” yang dimiliki si anak didik. Tentu saja, penggunaan “multiple intelligences” seperti ini diperlukan lebih dahulu semacam pengecekan (untuk tidak mengatakan pengetesan karena Gardner tidak setuju jika kecerdasan yang menonjol pada seorang anak itu dites). Hanya, perlu diperhatikan bahwa pengecekan jenis-jenis “multiple intelligences” yang menonjol pada seorang anak didik tidak dapat dikatakan memberikan hasil permanen. Setiap jenis kecerdasan yang dimiliki seorang anak didik senantiasa terus berkembang hingga tidak terbatas. Ada sih kondisi akhir di mana kecerdasan itu dapat mencapai puncak. Namun, pada usia berapa dan pada saat bagaimana, sepertinya ini masih merupakan sebuah misteri.
Sebaliknya dari fokus kepada anak didik, banyak para pakar “multiple intelligences”—seperti Thomas Armstrong yang menulis buku bagus Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan—menganjurkan agar para guru mulai memberdayakan dirinya dengan menguasai dan mencoba menerapkan teori Howard Gardner ini. “Jadikanlah diri Anda sebuah potensi yang sangat kreatif dengan memanfaatkan ‘multiple intelligences’,” demikian seolah-olah pesan yang digaungkan para pakar dan ditujukan kepada para guru.
“Multiple intelligences” memang dapat membuat seorang guru memiliki variasi mengajar yang sangat tidak terbatas. Dengan memanfaatkan pelbagai kombinasi dari setiap kecerdasan itu—baik itu suara dikombinasikan dengan gerakan atau suasana alam, dan masih banyak lagi—ada kemungkinan sebuah kegiatan belajar-mengajar tidak berlangsung membosankan.
Demikianlah, sebuah teori telah merembes masuk ke dunia pendidikan di Indonesia. Ada yang memerhatikan, ada yang tidak. Ada yang memahami secara mendalam, ada yang hanya ingin tahu saja. Ada yang memanfaatkan teori-baru tersebut, ada juga yang masih bertahan dengan teori-lama. Alangkah baiknya apabila kita—merujuk ke konsep “multiple intelligences” temuan Howard Gardner yang memberikan banyak alternatif baru untuk menjalankan sistem pendidikan di mana pun kita berada—mengenang kata-kata bagus dari John Alston dan Lloyd Thaxton, “Ada yang dapat memahami, ada yang tidak. Yang memahami ada yang bertindak, ada yang tidak. Mereka yang bertindak akan berhasil, dan mereka yang tidak bertindak akan gagal.”[]
sumber: mizan.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar